TUGAS
SENI BUDAYA
TARI
“PAKARENA”
SULAWESI
SELATAN
X APK 1
PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI
PERKANTORAN
SMK NEGERI 1 POGALAN TRENGGALEK
TAHUN AJARAN 2014/2015
DISKRIPSI
DAN KRITIK TARI PAKARENA
A.
DESKRIPSI
TARI PAKARENA
1.Pengertian
Tari Pakarena adalah tarian tradisional yang
diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat
semacam suling (puik-puik). Tari pakarena di Sulawesi selatan terdapat di dua
kabupaten. selain tari pakarena dari kabupatan Gowa yang pernah dimainkan oleh
maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu, terdapat juga jenis tari pakarena
lain yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar, yaitu “Tari Pakarena
Gantarang”. Disebut sebagai Tari Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal
dari sebuah perkampungan yang merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar pada
masa lalu, yaitu Gantarang Lalang Bata. Tarian yang dimainkan oleh kurang lebih
empat orang penari perempuan ini, pertama kali ditampilkan pada abad ke 17
tepatnya tahun 1903 saat Pangali Patta Raja dinobatkan sebagai Raja di
Gantarang Lalang Bata. Pakarena adalah bahasa setempat
berasal dari kata Karena yang artinya main.Tarian ini mentradisi di kalangan
masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.
2.
Latar
belakang penciptaan
a. Asal
Tarian
ini berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan.
b. Pencipta
Pencipta Tari Pakkarena, Andi Ummu Tunru
Ia merupakan putri dari pasangan
Andi Bau Tunru Karaeng Kaluarrang dan Hj Andi Humaya Tunru Petta Pudji.Ia mulai
menari sejak berusia tujuh tahun. Pada usia sembilan tahun, ia belajar menari
tradisi Bugis-Makassar kepada guru-guru tari di lingkungan kerajaan.
c. Sejarah
Tari
Masyarakat
meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan kemunculan
Tumanurung.Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk
memberikan petunjuk kepada manusia di bumi.Petunjuk yang diberikan tersebut
berupa symbol – simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena
Gantarang.
Hal
senada juga dituturkan oleh salah seorang pemain Tari Pakarena Makassar Munasih
Nadjamuddin.Beliau mengatakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan
penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) pada zaman
dahulu. Sebelum berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino
mengenai tata cara hidup, bercocok tanam hingga cara berburu lewat
gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan inilah yang kemudian menjadi
tarian ritual ketika penduduk di bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni
langit.
3.
Jenis Tari
Tari Tradisional
Tari Klasik , karena Tari Pakarena yang pada mulanya
merupakan tarian pemujaan dimana keyakinan manusia pada masa lampau bergantung
kepada alam tak nyata atau alam gaib, dimana tari merupakan salah satu cara
untuk menyampaikan hasrat atau keinginan akan berhasilnya suatu yang diinginkan,
persembahan seperti ini hampir sama, yakni ketika manusia masih hidup dalam
kehidupan alam primitive. Bahwa pernyataan gerak adalah lambang komunikasi
manusia antara manusia, utamanya kepada Dewata atau Batara.
Kemudian setelah masuknya agama
Islam di daerah (Rumpun yang memelihara tari Pakarena, antara lain; Gowa,
Bantaeng, Jeneponto, Selayar, Takalar). Tari Pakarena ini telah menjadi tari
adat, dimana tari tersebut hidup dan berkembang dalam lingkungan istana yaitu
diadakan pada upacara-upacara adat. Hingga dengan pesatnya perkembangan
Kerajaan Gowa, sejak Tumanurung merajai Butta Gowa (Daerah Gowa) sampai saat
pemerintahan Sultan Hasanuddin menjadi raja. Tamu-tamu terhormat dan tarian ini
tetap terpelihara dalam istana
4.
Fungsi
Dalam masyarakat Makasar Sulawesi selatan, banyak dijumpai
berbagai macam tari yang berkaitan dengan fungsi sosialnya, seperti tari-tarian
yang muncul pada saat upacara adat. Dalam dunia tari yang terdapat di Makasar
Sulawesi selatan dikenal beberapa tari tradisional yang berfungsi sebagai
sarana Upacara adat seperti, tari Pajoge, tari Pattudu, tari Pagellu, serta Tari
Pakarena yang merupakan rangkaian
peristiwa dari kehidupan manusia, sehingga sering disebut tarian yang bersifat
ritus/ritual
Tari tradisional tersebut pada awalnya dilaksanakan pada
waktu upacara adat, Saat ini kalau dilihat keberadaannya, tari-tari tradisional sudah jarang muncul,
mungkin saja disebabkan oleh kegiatan upacara adat yang jarang dilaksanakan, hingga keberadaan tari
tradisi tersebut berubah fungsi sebagai pertunjukan hiburan.
5.
Nilai Estetis
Nilai
estetis yang terkandung dalam tari pakarena terletak pada unsur-unsur tari.
Seperti pada saat menari, penari tidak diperkenankan membuka mata terlalu
lebar. Gerakan kaki penari, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Jadi penarinya
dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang prima.
6.
Unsur-Unsur
a.
Tema
Tema
tari pakarena adalah Cerita rakyat, pada awalnya tarian ini berkisah tentan perpisahan
penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) pada zaman
dahulu.
Masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena berkaitan dengan kemunculan Tumanurung.Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi.Petunjuk yang diberikan tersebut berupa symbol – simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang.
Masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena berkaitan dengan kemunculan Tumanurung.Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi.Petunjuk yang diberikan tersebut berupa symbol – simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang.
b.
Penari
Penari
dalam tari pakarena adalah wanita dewasa. Dengan 4 penari atau lebih. Dengan
usia penari tidak ada batasan, kira-kira 15 tahun sampai 80 tahun. Dengan peran
sebagi Tumarunung.Tumanurung
merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk
kepada manusia di bumi.
c.
Gerak
Gerakan dalam tari pakarena termasuk
dalam gerak maknawi karena, Gerakan dari tarian ini sangat artistik dan sarat
makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya.Tarian ini
terbagi dalam 12 bagian.Setiap gerakan memiliki makna khusus.Posisi duduk,
menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena.Gerakan berputar mengikuti arah
jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia.Sementara gerakan naik turun,
tak ubahnya cermin irama kehidupan.Aturan mainnya, seorang penari Pakarena
tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar.Demikian pula dengan gerakan
kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.Hal ini berlaku sepanjang tarian
berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam.
Sebuah cerminan wanita Sulawesi Selatan. Gandrang Pakarena, adalah tampilan
kaum pria Sulawesi Selatan yang keras.
Ragam
gerak tari pakarena
·
Sambori’na
(berteman)
·
Ma’biring
kassi’ (bermain ditepi pantai)
·
Anging
kamalino (angin tanpa berhembus)
·
Digandang
(berulang-ulang)
·
Jangan
lea-lea (ayam yang mundur-mundur sementara berkelahi)
·
Iyale’
(sebelum menyanyi ada seperti aba-aba) nyanyian tengah malam
·
So’naya
(yang bermimpi)
·
Lambbasari
(hati timur)
d.
Properti
Properti dalam tari pakarena adalah
:
-
Kipas
-
Baju pahang
-
Sampur
-
Gelang khas sulawesi
-
Kalung
e.
Rias Dan Busana
Sedangkan kostum dari penarinya adalah,
baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan),
dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar
Kipas berukuran besar. Tatanan rambut penari tari pakarena adalah digelung
dengan tambahan hiasan khas sulawesi yang meperindah tampilan rambut penari.
f.
Iringan
Iringan
yang digunakan dalam tari pakarena bersumber dari pukulan 2 (dua) kepala
drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik). Dan
termasuk dalam sumbermusik eksternal.
7.
Tempat dan waktu pertunjukan
a.
Latar
Tempat
pertunjukan tari pakarena dilakukan di panggung.Waktu pertunjukan biasanya
dilakukan semalam suntuk, atau bila dalam acara-acara pertunjukan waktu dapat
disesuaikan.
b.
Tata cahaya
Tata
cahaya yang digunakan dalam pertunjukan tari pakarena adalah main light.
Artinya pencahayaan dilakukan untuk keseluruhan bagian panggung. Hal ini
bertujuan agar, penikmat pertunjukan dapat melihat seluruh penari dan keadaan
panggung.
c.
Tata pentas
Tata
pentas atau tata panggung adalah penataan atau hiasan dekorasi pada panggung,
fungsinya untuk memperindah panggung. Tari pakarena dipentaskan di panggung
dengan dekorasi hiasan yang sangat kental dengan budaya sulawesi. Selain itu,
dalam panggung juga tersedia seperangkat gamelan yang berfungsi sebagai sumber
suara untuk memeriahkan suasana. Biasanya dalam pertunjukan atau pentas tari
pakarena terdapat dua orang sinden yang mengiringi tari.
B.
KRITIK TARI PAKARENA
1.
Keterkaitan antar unsur
Tema
tari pakarena adalah Cerita rakyat,yang mengisahkan seorang bidadari
yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi.
tari
pakarena selalu dimainkan oleh perempuan dewasa ataupun remaja dengan jumlah
lebih dari dua orang. tari pakarena identik dengan kipas dan sampur yang
merupakan salah satu perlengkapan yang diwajibkan.
Dalam
tari pakarena gerakan yang dimainkan dengan lemah lembut yang menggambarkan
sosok bidadari dengan kelembutannya.
2.
Kelebihan tari pakarena
a.
Antara gerak dengan ketukan musik
yang dimainkan dalam tari ini sangat kompak sehingga menjadikan tarian ini enak
untuk dinikmati.
b.
Memiliki aturan yang cukup unik,
seperti tidak diperkenankan membuka mata terlalu lebar, kaki tidak boleh
diangkat terlalu tinggi dan sebagainya.
c.
Kesatuan sntara irama gendang dan
alunan puik-puik sangat harmonis, sehingga menimbulkan kekhasan tersendiri.
d.
Dalam tarian ini tidak hanya penari
yang melakukan gerakan, tetapi pemain alat musikpun juga ikut bergerak
menggeleng-gelengkan kepala. Sehingga terkesan bukan hanya penari yang
menguasai pertunjukan.
e.
Sinden dapat menyanyikan tembangnya
dengan baik,dan dapat menyatu antara musik dengan baik.
3.
Kekurangan
tari pakarena
•
Gerakan
yang seolah olah sama dan di ulang-ulang membuat penikmatnya bosan, ditambah
lagi dalam tarian ini tidak ada seuah kejutan (klimaks) yang dapat membuat
penasaran penonton.
•
peralatan musik yang digunakan masih sangat
sederhana. Sehingga efek suara yang dihasilkan terlalu sederhana.
•
Penari
dalam video tersebut terlalu berumur, yang kurang menampakkan seorang bidadari
dengan kecantikannya. Jika saja penarinya diganti dengan gadis-gadis yang masih
perawan atau masih kelihatan muda dan cantik, pasti tarian ini akan kelihatan
lebih indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar